Uni Eropa bantu Rp1,6 miliar korban letusan Gunung Agung

id uni eropa,bantu korban,letusan gunung agung,Gunung agung meletus,erupsi gunung agung,gunung agung

Bendera Uni Eropa (REUTERS/Murad Sezer)

Jakarta (ANTARA News) - Uni Eropa (UE) memberikan bantuan senilai 100 ribu Euro atau sekitar Rp1,6 miliar untuk para keluarga yang terkena dampak letusan Gunung Agung di Bali.

"Hari ini, Kantor Bantuan Kemanusiaan Eropa (ECHO) telah memberikan bantuan dana tersebut kepada Palang Merah Indonesia (PMI)," kata Duta Besar UE untuk Indonesia Vincent Guerend dalam acara makan malam bersama media di Jakarta, Rabu.

Bantuan dana kemanusiaan Eropa diperuntukkan bagi sekitar 11 ribu masyarakat di beberapa wilayah yang paling terdampak letusan seperti Bangli, Buleleng, Gianyar, dan Karangasem, yang terpaksa harus tinggal sementara di kamp-kamp pengungsian.

Bahan penampungan, air minum, perlengkapan bayi, jamban, masker, serta pelayanan kesehatan disediakan bagi para korban.

Selain itu, UE juga mendukung pemulihan dan mempertemukan kembali keluarga-keluarga yang terpisah akibat bencana tersebut.

Letusan Gunung Agung mengakibatkan 66 ribu orang yang tinggal di zona paling berisiko mengungsi ke sekitar 220 permukiman sementara, juga menyebabkan penutupan sementara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai beberapa waktu lalu.

Status siaga Gunung Agung pertama kali diberlakukan pada September lalu setelah lonjakan aktivitas seismik mengindikasikan letusan berkekuatan tinggi dilaporkan. Aktivitas gempa sejak saat itu menurun, namun pada 27 November status siaga kembali naik ke level 4 karena gunung berapi tersebut terus memuntahkan abu vulkanik.

Hingga Minggu (10/12) dilaporkan Gunung Agung 17 kali mengembuskan asap bertekanan sedang berwarna putih dan kelabu dengan ketinggian 300 meter hingga 1.500 meter dari atas kawah.

Aktivitas ini, menurut Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gede Suantika, mengindikasikan pengisian lava di dalam kawah semakin melambat.

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar