Dana tunggu hunian telah disalurkan bagi 6.488 KK di NTT

id NTT, wagub NTT, bantuan bencana, dana tunggu hasil, bencana seroja

Dana tunggu hunian telah disalurkan bagi 6.488 KK di NTT

Wakil Gubernur NTT josef Nae Soi. ANTARA/Aloysius Lewokeda

Kupang (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef Nae Soi mengemukakan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTK) bagi korban bencana badai siklon tropis Seroja di provinsi setelah telah disalurkan kepada 6.488 Kepala Keluarga.

"Dana Tunggu Hunian yang telah disalurkan ini khusus bagi keluarga korban bencana yang rumahnya mengalami kerusakan berat," katanya di Kupang, Rabu, terkait penyaluran bantuan Dana Tunggu Hunian bagi korban bencana badai siklon tropis Seroja di NTT.

Ke-6.488 KK penerima bantuan masing-masing mendapatkan dana senilai Rp500.000 per bulan selama tiga bulan dengan total dana yang tersalurkan sebesar Rp9,7 miliar.

Dana bantuan ini, lanjut dia, hanya diberikan kepada masyarakat yang rumahnya masuk dalam kategori rusak berat akibat bencana.

"Hal ini karena rumah tersebut sudah tidak bisa dihuni lagi dan pemilik bersama keluarganya harus menumpang di rumah-rumah tetangga atau keluarganya," katanya.

Ia melanjutkan "Pemerintah tidak menyediakan aula bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat, karena saat ini kita masih dalam masa pandemi COVID-19 sehingga ditakutkan adanya klaster baru."

Lebih lanjut Nae Soi mengatakan kesulitan yang masih dihadapi pemerintah provinsi dalam mendata kerusakan rumah warga adalah karena banyak masyarakat yang masih belum mengetahui perbedaan kategori atau pengelompokkan rumah rusak berat, sedang maupun ringan.

Ia mengatakan hanya sedikit perbedaan antara kategori-kategori tersebut sehingga perlu dipahami masyarakat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Baca juga: Pemkab Kupang belum menyalurkan dana tunggu hunian korban seroja
Baca juga: Penyaluran DTH korban siklon Seroja di NTT tunggu tak ada kerumunan
Baca juga: 261 KK di Kota Kupang dapat bantuan dana tunggu hunian

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar