KBRI gelar konferensi via video dengan WNI di Swedia dan Latvia

id kbri wni swedia latvia ,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Dubes Indonesia di Stockholm, Bagas Hapsoro sebelumnya menyapa seluruh peserta yang telah bergabung dalam video conference dan menyampaikan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk bergabung dalam video conference (KBRI)

London (ANTARA) - KBRI melakukan konferensi via video dengan WNI di Swedia dan Latvia untuk memberikan perkembangan terkini kasus Coronavirus dan juga perkembangan kebijakan Pemerintah setempat bagi WNI di Swedia dan Latvia.

Guru Besar Universitas Gothenburg, Prof. Nawi Ng, menjelaskan definisi, asal muasal, dan serba-serbi Coronavirus yang diikuti WNI yang ada di Swedia, demikian Sekretaris Ketiga Pensosbud KBRI Stockholm, Fajar Primananda kepada Antara London, Jumat.

Dubes Indonesia di Stockholm, Bagas Hapsoro sebelumnya menyapa seluruh peserta yang telah bergabung dalam video conference dan menyampaikan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk bergabung dalam video conference.

“Kami ingin menyampaikan perkembangan mengenai Coronavirus dan paparan dari Prof. Nawi Ng” ujar Dubes Bagas dalam pembukaannya.

Baca juga: Ekonomi Swedia susut 4 persen akibat pandemi COVID-19

Baca juga: Cegah COVID-19, Rusia hentikan perjalanan ke Latvia, Ukraina, Moldova


Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Stockholm menyampaikan perkembangan terkini kasus Coronavirus yang terjadi baik di Indonesia, Swedia, maupun di Latvia, dilanjutkan keterangan dari Pelaksana Fungsi Protkons menyampaikan kebijakan yang diambil Pemerintah Swedia maupun Pemerintah Latvia.

Selanjutnya Guru Besar Universitas Gothenburg, Prof. Nawi Ng, memaparkan sejumlah informasi terkait definisi, asal-muasal hingga penyebaran Coronavirus. Menurutnya, penyakit dengan gejala seperti Coronavirus pernah muncul, seperti SARS di tahun 2002, dan MERS di tahun 2012.

Ia juga menyampaikan di luar gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas, terdapat gejala baru, seperti hilangnya kemampuan indera perasa dan penciuman. Ditambahkan virus ini memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi, dimana seorang pasien dapat menulari 2-2,5 orang lainnya.

Masa inkubasi virus ini pun bervariasi antara 2-14 hari, dimana seseorang yang terjangkit bisa langsung mengalami gejala pada hari kedua atau bahkan baru merasakan gejalanya 14 hari kemudian.

Selain itu, disampaikan bahwa fatality rate virus ini berada di angka 2 persen untuk golongan umur 50-59 tahun, namun demikian meningkat pesat di golongan umur yang lebih tua.

Usai paparan Prof. Nawi, peserta dapat menyampaikan pertanyaan dan tanggapan. Kegiatan video conference ini diharapkan dilaksanakan secara berkala.*

 


Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar