Budaya baca masyarakat jadi kekhawatiran Dahnil Anzar

id Dahnil Anzar, tradisi baca,Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),Jateng

Dahnil Anzar Simanjuntak saat memberikan keterangan kepada wartawan usai mengisi kegiatan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (22/8/2019). (FOTO ANTARA/Aris Wasita)

Sukoharjo (ANTARA) - Budaya baca masyarakat yang makin lama makin hilang dikhawatirkan tokoh pemuda nasional yang juga KetuUmum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018 Dahnil Anzar Simanjuntak.

"Yang paling mengkhawatirkan di kalangan anak muda adalah tradisi baca. Makanya yang saya tekankan adalah membangun tradisi membaca," katanya usai mengisi kegiatan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis

Dahnil yang kini menjadi juru bicara Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto itu mengatakan saat ini tidak sedikit politisi Indonesia yang miskin gagasan dan ide akibat jarang membaca.

"Ini berpengaruh, para tokoh politik tidak berangkat dari tradisi baca yang kuat. Dulu 'founding father' (pendiri bangsa) Bung Karno, Bung Hatta semuanya para pembaca," katanya.

Ia mengatakan yang dilakukan para tokoh politik pada zaman dahulu adalah bertarung gagasan melalui tulisan artikel di surat kabar.

 Menurut dia, kondisi tersebut saat ini sudah jarang ditemui.

"Sekarang berantemnya pakai hoaks lewat media sosial, pakai fitnah. Akhirnya saling lapor karena tidak mampu berdiskusi. Sekarang pemikiran diadu dengan tindakan represif. Beda secara pemikiran ditindak secara hukum," kata Dahnil yang mundur dari dosen tetap aparatur sipil negara (ASN) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten saat Pilpres lalu.

Bahkan, dikatakannya, sebagian politisi Indonesia kehabisan waktu karena sibuk membingkai pencitraan.

"Padahal, tradisi baca ini menunjukkan kapasitas dan kualitas. Kalau jarang baca maka akan miskin ide, miskin gagasan. Menunjukkan kualitas bacanya rendah. Hanya sedikit yang punya ide otentik," katanya.

Oleh karena itu, ia berharap pemimpin bangsa dalam hal ini Presiden dan Wakil Presiden bisa memberikan teladan terkait tradisi baca tersebut.

"Saya pikir mulai saja dengan membangun keteladanan. Tradisi kita surplus dengan pidato, menjadi tidak efektif ketika pemimpinnya tidak memberikan contoh. Tidak usah dimulai program apa, seperti membangun perpustakaan, kalau tidak ada yang datang untuk baca kan jadi masalah," demikian Dahnil Anzar Simanjuntak.

Baca juga: Dahnil: Gali peran pemuda dalam sejarah kemerdekaan Indonesia

Baca juga: Tradisi menulis lebih rendah dari minat membaca

Baca juga: Mendikbud: Budaya baca Indonesia tertinggal empat tahun

Pewarta : Aris Wasita
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar