Kak Seto ingatkan Tangsel pernah raih rekor MURI perlindungan anak

id Pasukan Pengibar Bendera Pusaka,Calon Anggota Paskibraka Meninggal,Tangerang Selatan,LPAI,Seto Mulyadi,paskibraka tangerang selatan, paskibraka tewas

Ilustrasi - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi atau Kak Seto (Foto : Net) (Foto : Net/)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengingatkan Pemerintah Kota Tangerang Selatan bahwa kota tersebut pernah meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) di bidang perlindungan anak, tetapi disayangkan karena ada kejadian calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Kota Tangerang Selatan 2019 yang meninggal saat pelatihan.

"Tangerang Selatan pernah meraih rekor MURI sebagai kota pertama yang memiliki seksi perlindungan anak di tingkat rukun tetangga dan rukun warga," kata Seto Mulyadi dalam jumpa pers di KPAI di Jakarta, Senin.

Kak Seto, panggilan akrabnya, mengatakan keberadaan seksi perlindungan anak agar masyarakat di tingkat terbawah bisa mendeteksi dan mencegah pelanggaran hak-hak anak, termasuk kekerasan.

Karena itu, dia menyayangkan di kota tersebut terdapat calon anggota paskibraka yang meninggal dunia, diduga karena mengalami kekerasan saat mengikuti pelatihan. Menurut Kak Seto, kejadian tersebut harus menjadi bahan introspeksi bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

"Karena itu, LPAI mendesak Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan Polres Metro Tangerang Selatan agar segera memberikan klarifikasi. Jangan ada yang disembunyikan," tuturnya.

Kak Seto memuji langkah Polres Metro Tangerang Selatan yang tampak serius menangani kematian calon anggota paskibraka meskipun kasus tersebut merupakan delik aduan.

Menurut Kak Seto, kejadian tersebut merupakan kasus hukum yang menjadi perhatian publik sehingga harus ada klarifikasi kepada masyarakat luas.

Sebelumnya, salah seorang calon anggota Paskibraka Tingkat Kota Tangerang Selatan 2019 meninggal saat masa pelatihan. KPAI sudah menemui orang tua yang bersangkutan. Meskipun terlihat belum bisa menerima kematian anaknya, kedua orang tua tersebut tidak mau menuntut atau melanjutkan kejadian tersebut ke ranah hukum, tetapi siap bila dimintai keterangan oleh polisi.

Menurut penuturan orang tua, selama mengikuti pelatihan paskibraka anaknya harus berlari dengan membawa tas berisi tiga kilogram pasir dan tiga liter air minum, makan jeruk beserta kulitnya, push-up dengan tangan mengepal, menulis buku harian setiap hari yang dirobek oleh seniornya, dan berenang setelah seharian berlatih. 
Baca juga: Wali Kota Tangsel diminta bertanggung jawab kematian calon Paskibraka
Baca juga: KPAI puji polisi yang selidiki calon paskibraka meninggal

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar