Logo Header Antaranews Manado

Bunga bermekaran, ekonomi bergerak: Jejak dukungan BI Sulut di TIFF 2026

Jumat, 25 September 2026 15:03 WIB
Image Print
BI Sulut mengikuti Parade Tournament of Flowers (ToF) 2026, di Tomohon, Sulut. ANTARA/Nancy L Tigauw

Manado (ANTARA) - Di tengah gemerlap bunga yang menghiasi Kota Tomohon, Sulawesi Utara, ada satu hal yang ikut bergerak di balik kemeriahan Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 yakni denyut ekonomi masyarakat yang membuat wisatawan berdatangan, pedagang membuka lapak, hotel dipenuhi tamu, restoran semakin ramai, produk-produk lokal dipajang.

Sementara puluhan kendaraan hias bersiap membawa ribuan bunga segar menyusuri jalan utama Tomohon. Di tengah suasana itulah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara hadir memberikan dukungan.

Sorak-sorai penonton membahana ketika sebuah kendaraan hias mulai memasuki jalur parade Tournament of Flowers (ToF) 2026.

Dari kejauhan, kendaraan itu sudah mencuri perhatian, bukan hanya karena taburan bunga segar yang memenuhi hampir seluruh permukaannya, tetapi juga karena bentuk dan ornamen yang tidak biasa.

Di antara warna-warni bunga, tampak sosok cabai rawit dan bawang merah yang dibuat begitu mencolok. Penonton pun mulai bertanya-tanya. “Kenapa ada cabai?” “Bawang merah juga?” Jawabannya ada pada pesan yang dibawa kendaraan hias milik Bank Indonesia Sulawesi Utara tersebut.

Mengusung semangat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kendaraan itu menjadikan komoditas yang kerap menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi Sulawesi Utara sebagai bagian dari dekorasi.

Cabai rawit dan bawang merah yang biasanya menjadi penghuni pasar dan dapur masyarakat, hari itu justru tampil sebagai bintang parade. Keduanya dikelilingi bunga-bunga segar yang ditata dengan penuh kreativitas. Warna merah cabai berpadu dengan bunga-bunga cerah, sementara ornamen bawang merah menjadi bagian dari komposisi yang membuat kendaraan terlihat unik dan mudah dikenali.

Penonton pun tersenyum, sebagian tertawa kecil melihat cabai dan bawang yang seolah-olah sedang ikut berpesta di tengah parade bunga.

Namun di balik tampilan yang menghibur itu, tersimpan pesan serius, harga cabai rawit dan bawang merah dapat memengaruhi tekanan inflasi. Karena itu, masyarakat diajak memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan, ketersediaan, dan pola konsumsi.

Pesan tersebut disampaikan dengan cara yang jauh dari kesan menggurui, bukan melalui ruang seminar, bukan melalui tumpukan angka, tetapi melalui kendaraan hias yang berjalan perlahan di hadapan ribuan penonton.

Di situlah kekuatan TIFF terasa, pesan ekonomi dapat dikemas menjadi pertunjukan. Edukasi dapat berjalan bersama hiburan dan komoditas yang sehari-hari dianggap biasa dapat berubah menjadi karya seni yang menarik perhatian.

Namun kendaraan hias BI belum selesai memberikan kejutan, di antara hamparan bunga dan ornamen cabai serta bawang merah, terselip pula pesan mengenai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), sebuah simbol kecil, tetapi membawa cerita besar tentang perubahan cara masyarakat bertransaksi.

Penonton diajak mengenal pembayaran digital yang praktis, cepat, dan aman, bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang berjualan selama festival, QRIS menjadi salah satu cara untuk melayani wisatawan tanpa harus selalu bergantung pada uang tunai. Bayangkan seorang wisatawan berhenti di sebuah lapak. Ia menemukan makanan atau suvenir yang menarik, setelah memilih barang, ponsel diangkat, kode QR dipindai. Selesai.

Tidak perlu mencari uang pas, tidak perlu repot dengan pecahan uang, sebuah transaksi terjadi hanya dalam beberapa detik. Bahkan bagi wisatawan mancanegara, edukasi tentang QRIS menjadi semakin relevan karena sistem pembayaran digital Indonesia telah memiliki konektivitas antarnegara dengan sejumlah negara.

Maka kendaraan hias BI hari itu membawa dua pesan yang seolah berbeda, tetapi sebenarnya saling berkaitan, cabai dan bawang merah berbicara tentang harga dan inflasi. QRIS berbicara tentang transaksi dan ekonomi digital. Keduanya bertemu dalam satu panggung yang sama yakni TIFF.

Ketika kendaraan itu melewati panggung kehormatan, sorak penonton kembali pecah. Kamera ponsel diarahkan ke ornamen bunga, cabai, bawang merah, hingga pesan QRIS yang terpampang pada kendaraan.

Banyak yang mungkin datang untuk melihat bunga, tetapi mereka pulang membawa pengetahuan baru, bahwa menjaga inflasi membutuhkan perhatian bersama. Bahwa berbelanja harus dilakukan secara bijak. Bahwa pelaku usaha perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ekonomi digital kini dapat hadir bahkan di tengah festival bunga.

Kendaraan hias BI pun terus bergerak meninggalkan panggung kehormatan, bunga-bunganya masih berkilauan, cabai dan bawang merah masih menjadi pusat perhatian. QRIS tetap terpampang sebagai simbol transformasi digital. Di sepanjang jalan, tepuk tangan belum berhenti.

Hari itu, BI berhasil menjadikan sebuah kendaraan hias bukan sekadar tontonan, melainkan papan cerita berjalan yang mengajak masyarakat memahami inflasi, mengenal TPID, dan semakin dekat dengan pembayaran digital.

Menurut, Kepala BI Perwakilan Sulut, Joko Supratikto, di TIFF 2026 cabai dan bawang merah pun punya panggung dan dari panggung itu, sebuah pesan sederhana sampai kepada masyarakat menikmati keindahan bunga boleh, tetapi menjaga kestabilan harga dan beradaptasi dengan ekonomi digital adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

TIFF membuka peluang ekonomi dan bagi masyarakat, festival menjadi ruang belajar bahwa kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan budaya. Ia berharap pelaku usaha semakin percaya diri memasuki ekosistem ekonomi digital. Dukungan Bank Indonesia Sulut menunjukkan bahwa sebuah festival bunga dapat memiliki makna yang jauh lebih luas.

Bunga Membuka Jalan Investasi

TIFF 2026 bukan sekadar perayaan bunga yang mempercantik wajah Kota Tomohon. Di balik warna-warni parade dan semarak festival, agenda ini juga menjadi ruang pertemuan antara pariwisata, perdagangan, florikultura, digitalisasi, hingga investasi.

BI kembali mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan TIFF 2026. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui sejumlah agenda, mulai dari keikutsertaan dalam Tournament of Flowers, partisipasi pada Tourism, Trade and Floriculture Expo, hingga pendampingan pengembangan digitalisasi transaksi selama pelaksanaan TIFF.

Namun, perhatian juga diarahkan pada agenda yang memiliki tujuan lebih jauh yakni North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026.

Bagi BI, NSIF tahun ini memiliki arti khusus. Tahun 2026 menjadi tahun kedua kolaborasi antara BI dan TIFF dalam penyelenggaraan forum investasi tersebut. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya forum menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan, tahun ini konsepnya akan diarahkan agar pertemuan tersebut dapat berlanjut menjadi kerja sama yang lebih konkret.

Joko mengatakan, sejumlah perubahan konsep akan diterapkan dalam NSIF 2026, terutama dari sisi kepesertaan. Perubahan itu dirancang agar forum tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran gagasan, tetapi mampu mempertemukan calon investor dengan daerah secara lebih tepat sasaran.

Untuk NSIF tahun ini tujuannya agar hasil yang dicapai lebih implementatif antara calon investor dengan daerah-daerah, termasuk Kota Tomohon.

Dengan demikian, TIFF 2026 menghadirkan cerita yang lebih luas dari pada sekadar festival bunga. Di tengah hamparan warna dan kemeriahan acara, terdapat upaya membangun jembatan baru, dari florikultura menuju perdagangan, dari pariwisata menuju transaksi digital, dan dari pertemuan investasi menuju peluang kerja sama yang nyata bagi daerah.

Keberlangsungan Festival

Ketua Umum Panitia TIFF 2026, Levita Supit Ginting, mengatakan parade kendaraan hias menjadi salah satu agenda yang paling dinanti.Setiap float bukan sekadar kendaraan yang dihias, melainkan sebuah karya seni berjalan.

Bunga-bunga segar disusun menjadi berbagai bentuk dan desain. Warna-warni krisan, rangkaian flora khas Tomohon, serta sentuhan kreativitas para perancang berpadu menjadi instalasi seni yang bergerak perlahan di tengah kerumunan.

Satu per satu kendaraan hias melintas. Ada yang tampil megah, ada yang membawa pesan budaya, dan ada pula yang memamerkan karakter khas daerah maupun institusi yang diwakilinya.

Sebanyak 35 kendaraan hias bersiap melintas dalam Tournament of Flowers (ToF), puncak perayaan bunga yang digelar di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, menandai semakin besarnya gairah masyarakat dan peserta terhadap festival bunga yang telah menjadi identitas kota ini.

Wali Kota Tomohon Caroll Senduk memberikan apresiasi kepada para petani bunga di Tomohon. Menurutnya, dukungan mereka menjadi bagian penting dari keberlangsungan festival.

Di tengah kondisi efisiensi anggaran, TIFF tetap berjalan. Justru dalam keadaan seperti itu, semangat untuk berkreasi dituntut semakin besar. “Efisiensi tidak membuat hilang semangat, tapi lebih kreatif lagi,” menjadi semangat yang tergambar dari penyelenggaraan festival tahun ini.

Di tengah kemeriahan itulah Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyaksikan langsung perhelatan tersebut. Matanya tertuju pada parade dan antusiasme masyarakat yang memenuhi sepanjang jalur.

Baginya, apa yang terlihat di Tomohon hari itu bukan lagi sekadar sebuah festival daerah. Ada sesuatu yang lebih besar yakni potensi pariwisata, ekonomi kreatif, florikultura, budaya, dan yang paling penting.

Irene pun menyampaikan harapannya agar semakin banyak wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, datang ke Tomohon.

Bagi Irene, Tomohon memiliki modal yang kuat untuk mewujudkan harapan itu. Bukan hanya karena bunganya indah, tetapi karena masyarakatnya mampu menghidupkan bunga tersebut menjadi sebuah pengalaman.

Kebangkitan Ekonomi Sulut

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menyebut TIFF sebagai salah satu motor kebangkitan ekonomi kreatif masyarakat.

Dampaknya, menurut dia, terasa langsung di berbagai lapisan yang bermula dari kebun petani, setelah dipanen, bunga berpindah ke tangan perajin dan dekorator. Mereka mengolahnya menjadi bagian dari kendaraan hias.

Ketika parade berlangsung, wisatawan datang menyaksikan. Setelah itu, mereka membutuhkan tempat makan, penginapan, transportasi, cendera mata, hingga berbagai layanan lainnya.

"Satu bunga menggerakkan banyak tangan. Satu festival menghidupkan banyak usaha. Itulah efek domino yang terlihat selama TIFF," kata Gubernur Sulut.

Guru Besar Universitas Sam Ratulangi Manado Prof Dr Joy Tulung, melihat TIFF sebagai sesuatu yang lebih penting daripada sekadar agenda pariwisata tahunan.

Baginya, TIFF adalah sebuah instrumen yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.

Menurut Prof Joy, kekuatan seperti inilah yang membuat pariwisata memiliki posisi strategis dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

Terlebih, ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 5,42 persen. Festival tidak boleh hanya hidup selama beberapa hari. Ia harus menjadi pintu masuk menuju aktivitas ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun.

Bunga-bunga yang menjadi ikon TIFF dapat membawa wisatawan masuk lebih jauh ke dunia florikultura Tomohon. Kebun-kebun petani dapat berkembang menjadi destinasi agrowisata. Produk lokal dapat dipasarkan lebih luas. Kuliner khas dapat diperkenalkan kepada wisatawan dan industri kreatif dapat menemukan pasar baru. Bahkan, festival dapat menjadi etalase yang mempertemukan produk lokal dengan investor dan pasar nasional maupun internasional.

Bunga-bunga memang hanya mekar sesaat, tetapi jika dikelola dengan visi dan kolaborasi, ekonomi yang tumbuh dari bunga dapat terus mekar sepanjang tahun.

Tomohon pun tidak lagi sekadar menjadi kota tempat festival bunga berlangsung, tapi dapat tumbuh menjadi kota tempat pariwisata, kreativitas, pertanian, perdagangan, dan investasi bertemu dan bersama-sama menggerakkan ekonomi Sulawesi Utara.



Pewarta :
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026