
Mendiktisaintek dorong kampus buat inovasi untuk kepentingan masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan inovasi yang berdampak bagi kehidupan masyarakat.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang punya cita-cita besar. Kita ingin Indonesia menjadi negara yang masyarakatnya sejahtera. Karena itu kita harus berusaha memimpin kemajuan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Mendiktisaintek menegaskan perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat lahirnya kemajuan bangsa.
Ia menilai kampus perlu terus memperkuat kontribusi melalui pendidikan, riset, dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dunia usaha, industri, dan pemerintah.
"Kampus itu menjadi pusat-pusat kemajuan. Orang masuk ke kampus harus melihat sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitarnya, karena di sinilah pusat kemajuan bangsa. Kami ingin mensosialisasikan Kampus Berdampak, apa yang sudah bisa kampus berikan untuk masyarakat, bangsa, dan industri," ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Mendiktisaintek juga mendorong kampus untuk memperkuat pengelolaan sampah melalui penerapan sains, teknologi, dan kolaborasi lintas disiplin sebagai upaya mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Salah satunya seperti Universitas Diponegoro (Undip), yang memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar serta menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain.
"TPST Undip merupakan contoh TPST yang dibutuhkan masyarakat. Saya minta kapasitasnya ditingkatkan agar dapat membantu masyarakat Tembalang. Kalau bisa ada pelatihan untuk masyarakat agar terbiasa memilah sampah, sehingga bisa diolah di sini dan menjadi percontohan bagi kampus-kampus di seluruh Indonesia," ucap Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Menurutnya, pengelolaan sampah memerlukan pendekatan multidisiplin dengan memadukan rekayasa sosial, rekayasa biologi, dan rekayasa teknik atau engineering agar mampu menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
"Pengelolaan sampah ini membutuhkan social engineering, rekayasa biologi, dan engineering. Ini adalah kerja multidisiplin yang diharapkan menjadi percontohan dan memberikan dampak," tutur Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
