
Praktisi: Kontruksi jadi faktor penting ketahanan anti gempa

Manado (ANTARA) - Praktisi Kontruksi, Hadi Wardoyo menyebut bahwa konstruksi dasar sebuah bangunan adalah faktor penting dalam sebuah bangunan tahan gempa, dan kuncinya ada pada kekuatan dan fleksibilitas fondasi menahan goncangan gempa.
“Fondasi yang kokoh dan fleksibel mampu menyalurkan energi gempa secara merata ke tanah, sebab pada dasarnya, gempa tidak membunuh, tapi reruntuhan bangunan yang sebenarnya bisa membunuh," kata Hadi yang juga Direktur PT Cipta Anugerah Indotama (CAI), dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Manado, Kamis.
Hal itu dikatakan Hadi, terkait dengan gempa bumi magnitudo (M) 7,6 mengguncang wilayah timur Indonesia yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) di mana kondisi tersebut menyisakan duka sekaligus mempertanyakan kembali tingkat keamanan bangunan saat terjadi bencana.
Gempa berpotensi tsunami tersebut dilaporkan terjadi pada kamis (2/4/2026) pagi, pukul 06.48 WITA atau 05.48 WIB dengan Koordinat gempa 1,25 Lintang Utara (LU)-126,27 Bujur Timur (BT) atau berada di laut 132 km barat laut Ternate, Maluku Utara.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa tersebut mengalami kemuktahiran dari sebelumnya berkekuatan magnitude 7,3 menjadi 7,6.
Episentrum gempa berada di koordinat 1,25 derajat lintang utara dan 126,27 derajat bujur timur dengan kedalaman 62 kilometer.
Sementara itu, PT Cipta Anugerah Indotama adalah perusahaan pemegang paten eksklusif fondasi Konstruksi Jaring Rusuk Beton Pasak Vertikal (KJRB).
"Fondasi KJRB merupakan penyempurnaan dari fondasi Konstruksi Sarang Laba – Laba (KSLL) dinilai sangat tepat untuk digunakan di daerah rawan gempa seperti di Manado, Sulut," ujarnya.
Hadi yang membawahi perusahaan di bidang design, build & construction menyebut konstruksi ini dinilai paling tepat untuk konstruksi bangunan bawah (Sub Structure).
Fondasi KSLL ditemukan tahun 1976 di Surabaya oleh Ir Ryantori dan Ir Sutjipto yang di desain untuk gedung bertingkat tanggung (2 hingga 8 lantai) duduk di atas tanah lunak.
Fondasi tersebut digunakan pada ratusan bangunan di seluruh wilayah Indonesia, yakni Gedung Perkantoran, Mall, Rumah Sakit, Kampus, Terminal Bandara, Pabrik dan Gudang, Container Yard, Konstruksi Jalan Raya, Emplasemen, Apron dan Taxiway.
Ia menjelaskan pada saat gempa berkekuatan besar, permukaan bumi akan bergolak seperti laut yang sedang terkena badai, sementara gedung yang mempergunakan KJRB akan berperilaku seperti kapal di tengah badai.
"Pada 26 Desember 2004 fondasi KSLL telah teruji gempa besar dan tsunami 9,3 SR di Aceh, 32 gedung masih berdiri kokoh dan gempa 8,7 SR di Padang tahun 2009, 68 gedung masih bisa dioperasikan dengan baik" kata Hadi lagi.
Fondasi seperti ini juga sudah digunakan di Manado pada tahun 2010 pada gedung RSUD Kandou dan gedung CTI Manado Sulut.
Tahun 2003 KSLL disempurnakan, ditemukan novelty baru dengan nama Perbaikan Konstruksi Sarang Laba – Laba (PKSLL) dan tahun 2016 disempurnakan lagi ditemukan novelty baru dengan nama Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB).
"Saya berharap agar pemerintah merekomendasikan fondasi teruji gempa untuk pembangunan gedung di daerah zona gempa seperti di Manado dan daerah zona gempa lainnya di wilayah Indonesia," ujarnya.
Pewarta : Karel Alexander Polakitan
Editor:
Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
