Manado (ANTARA) - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi murid SMA/SMK di seluruh Indonesia pada 3-9 November 2025 lalu, sukses, dan lebih dari 3,5 juta murid tercatat telah mengikuti asesmen yang menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dan standarisasi kemampuan akademik di tingkat nasional.
Guru sekaligus Tim Teknis Pelaksanaan TKA di SMAN 3 Tondano, Sulawesi Utara, Clowdy Tumembouw menjelaskan, pelaksanaan TKA di sekolahnya berjalan lancar dan tertib, dengan tingkat partisipasi mencapai 97–98 persen siswa, apalagi TKA bukan hanya mengukur kemampuan siswa, tapi juga menjadi alat refleksi bagi guru dan sekolah.
“Soal-soal yang keluar mencakup pelajaran wajib seperti Bahasa Inggris dan Matematika, serta mata pelajaran pilihan. Jadi ini bisa jadi alat ukur kemampuan siswa sekaligus cermin bagi guru, apakah pembelajaran selama ini sudah efektif atau belum,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejak adanya TKA, terlihat perubahan signifikan dalam semangat belajar siswa, karena anak-anak jadi lebih serius. Mereka sadar kalau hasil TKA bisa berpengaruh untuk masuk perguruan tinggi, maka sekolah pun menambah jam belajar untuk mata pelajaran yang diujikan di TKA agar mereka lebih siap.
Lebih lanjut, ia berharap TKA dapat menjadi alat ukur komprehensif, bagi satuan pendidikan dan dinas terkait untuk melihat capaian pembelajaran di tingkat daerah, karena hasil TKA, bisa terlihat capaian per provinsi atau per sekolah. Itu bahan refleksi penting untuk pembenahan pendidikan.
Clowdy Tumembouw mengatakan, di provinsi lain, seperti di Bali TKA, salah satu sejawat mereka yang juga penyelenggaranya yakni Guru SMKN 1 Bangli, Bali, I Wayan Abyong juga mengatakan asesmen ini membawa dampak positif bagi murid maupun guru, karena menjadi bentuk evaluasi akademik yang dapat memacu murid untuk belajar lebih terarah dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap hasil belajarnya, terutama setelah tidak lagi diberlakukannya Ujian Nasional.
“Kalau saya melihat, TKA ini satu hal yang baik. Dulu kan ada Ujian Nasional, dan itu memicu murid untuk belajar. Sekarang, walaupun TKA bukan ujian wajib atau penentu kelulusan, tapi sangat bermanfaat untuk mengukur kemampuan akademik siswa,” ujar Jelly mengutip pernyataan Wayan.
Dia menjelaskan, TKA di sekolahnya yang diikuti 208 siswa kelas XII juga membantu guru merancang pembelajaran yang lebih efektif dan terukur. Siswa menjadi lebih fokus terhadap materi umum, tidak hanya pada pelajaran produktif di jurusan masing-masing.
Demikian juga di SMAN 3 Merauke, Wira Sudirja, yang menyebut antusiasme siswa terhadap TKA cukup tinggi, karena dari sekitar 300 siswa kelas XII, hampir semuanya mengikuti asesmen, hanya beberapa yang absen karena kendala kesehatan.
“Kami melihat anak-anak sangat mempersiapkan diri. Banyak yang ikut pemantapan khusus untuk menghadapi TKA. Artinya mereka menganggap ini penting, apalagi ini kan hasilnya bisa digunakan untuk seleksi perguruan tinggi, selain itu, TKA juga menjadi sarana refleksi bagi guru dalam menilai sejauh mana efektivitas pembelajaran di kelas,"kata Jelly mengutip pernyataan sejawatnya dari Merauke.

