Manado, (Antara News) - Perang perlawanan Permesta/PRRI bakal diseminarkan di Sulut 4 Juli 2011 mendatang, guna mencari penelusuran sejarah, sehingga tidak berimbas pada salah persepsi bagi generasi muda akan datang.
Demikian diungkapkan Ketua Panitia Peringatan satu abad Mr Syarifudin Prawiranegara, Prof Dr AM Fatwa, yang bertatap muka dengan Wakil Gubernur Sulut, Djauhari Kansil, di Manado, Selasa.
Seminar Permesta/PRRI merupakan rangkaian kegiatan satu abad Mr Syarifudin Prawiranegara, yang dalam sejarah pernah ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Penguasa Pemerintah Darurat RI di Sumatera di setelah Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda.
Pada kegiatan seminar itu nantinya akan bekerja sama dengan Pemprov Sulut dan Universitas Sam Ratulangi Manado.
Menurut rencana para ahli sejarah dan ahli hukum tata negara nasional yang berkompetense dan menguasai peristiwa PRRI/Permesta, termasuk Prof DR. A.M. Fatwa dan Para sejarawan daerah, akan menjadi pembicara pada seminar tersebut.
Seminar ini nantinya akan akan diikuti oleh kalangan akademisi, para pelaku sejarah PRRI/Permesta di Sulut yang masih hidup dan kalangan masyarakat yang berkepentingan dengan hal tersebut.
Pada kesempatan itu, AM Fatwa yang juga mantan Wakil Ketua MPR RI dan saat ini anggota DPD RI, meminta dukungan Pemerintah Provinsi Sulut untuk penyelenggaraan seminar tersebut, yang diharapkan akan memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang peristiwa PRRI/Permesta yang merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa.
Wakil Gubernur Sulut Djauhari Kansil menyambut baik dan akan mendukung sepenuhnya pelaksanaan seminar ini, karena merupakan bagian dari pencerahan sejarah untuk bangsa Indonesia.
Wagub mengharapkan hasil seminar ini akan memberikan pemahaman yang benar kepada seluruh rakyar Indonesia tentang hakekat PRRI/Permesta, yang disebutnya sebagai "Cetusan Hati" tentang eksistensi kawasan Indonesia timur sebagai bagian integral yang perlu mendapatkan perhatian sama dengan bagian Indonesia lainnnya pada waktu itu.
"Selama ini opini yang berkembang adalah perjuangan PRRI/Permesta adalah perjuangan 'separatis', dan inilah diharapkan dapat diluruskan melalui kegiatan seminar tersebut," katanya.