Manado, (Antara News) - Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) setiap bulan mengantarpulaukan komoditas holtikultura berkisar 2.500 ton ke Kalimantan Timur dan daerah lainnya di Indonesia Timur mulai dari  Maluku Utara hingga Papua.

"Rincian holtikultura berhasil diantarpulaukan yakni kentang sekitar 1000 ton dan komoditas sayuran berkisar 1500 ton," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Janny Rembet, di Manado, Kamis.

Sayuran produksi petani Sulut yang mampu merambah Kawasan Timur Indonesia (KTI), kata Janny, terutama wortel, kubis dan petsai, dengan pengiriman rata-rata 1500 ton tiap bulan.

Janny mengakui, peningkatan ekspor komoditas holtikultura ke Kalimantan dan KTI, semakin meningkat terbantu pemasarannya melalui Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) yang digelar setiap dua bulan sekali.

"Dalam PLKA mampu terhimpun stok untuk dikirim memenuhi permintaan masyarakat di Kalimantan dan KTI," kata Janny.

Marthen, salah satu petani holtikultura Kecamatan Tompasobaru, Minahasa Selatan, mengatakan, terbukanya pasar ke luar daerah tersebut memberi keuntungan kepada petani, sebab meski produksi melimpah tetap terserap pasar.

"Ketika pasar masih terbatas lokal Sulut saja, sering terjadi kerugian pada petani menyusul hasil panen membusuk karena tidak semua terserap pasar," kata Marthen.

Tetapi terbukanya pasar ke berbagai daerah di Indonesia, kata Marthen, maka soal pemasaran tidak menjadi kendala lagi, malah sebagian  petani memperluas areal pertanaman holtikultura agar produksi bertambah.

Daerah yang menjadi sentra tanaman holtikultura jenis sayuran di Provinsi Sulut, terutama terkonsentrasi di Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara dan Minahasa. (*)