Anak Pencemas

Jaka (5 tahun) adalah putra sulung dari keluarga muda yang berpendidikan tinggi, ibunya seorang sarjana dan bapaknya seorang yang sedang menyelesaikan program masternya.

Sesuai kesepakatannya dengan sang suami, ibu Jaka memilih berkarir sebagai Ibu Rumah Tangga, ia bertanggungjawab terhadap tata laksana “internal” rumah tangga, mulai dari urusan dapur, sumur, kasur dan tata keindahan dalam rumah tangganya. Termasuk mendampingi anaknya yang semata wayang dalam menjalani tumbuh kembangnya.

Meskipun Ibu Jaka sarjana kimia dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia namun ia menguasai cukup banyak ilmu kerumah-tanggaan seperti akuntansi keuangan, anggaran, psikologi, pendidikan, tata boga, tata arias, kesehatan dan komunikasi.

Tidak seperti ibunya, Ayah Jaka adalah model orang yang “perfect”, segala sesuatunya harus sempurna. Sering kali terlihat dialog yang serius antara Ayah dan Ibu Jaka ini, hanya gara-gara Ayah Jaka menilai sesuatu itu kurang sempurna.

Ketika Ibu Jaka menilai gambaran Jaka yang sangat bagus, namun tidak dengan penilaian Ayahnya, ia selalu mengkritik gambar jaka yang kurang rapi, kurang rata warnanya dan masih banyak lagi lontaran kata-kata “kurang”. Lama kelamaan, Jaka pun dibuat bingung, kata dalam hatinya,”Aku harus ikut siapa ya, ikut Ibu atau ikut Ayah”.

Setiap Jaka akan membuat “sesuatu” termasuk akan coretan warna atau belajar menulis,  Jaka pun nampak bimbang, dalam hatinya selalu muncul rasa khawatir (was-was). Ibunya merasakan bahwa semakin hari keceriaan Jaka semakin menurun, ia tak lagi bergairah lagi bila mana ibunya mengajak main gambar, menulis atau membaca. Bila ditanya sesuatu, Jaka hanya terdiam dan menoleh ke ayah dan ibunya atau kadang-kadang menangis sambil menutupi wajahnya.

Suatu ketika, saya bertemu dengan kedua orangtuanya dan mereka menyampaikan kondisi Jaka seperti diatas. Saya pun berpendapat bahwa ada kebiasaan orang tua yang tidak kompak dalam mendidik Jaka, yang membuat Jaka bingung  dan selalu muncul kekhawatiran yang terus menerus. Jaka menderita kecemasan yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus segera mendapatkan pengobatan.

Sahabat Golden Family, perasaan khawatir sepertinya menjadi wabah besar pada abad modern ini,penyakit manusia yang penampakannya samar namun dapat menjadi perusak yang mengalahkan sel kanker. Perasaan khawatir sebenarnya merupakan respon mental kita yang dalam kondisi normal ia merupakan bagian dari perkembangan anak.

Namun bila kekhawatiran sudah menjadi kebiasaannya, ini yang tidak menyehatkan bahkan bisa merusak diri kita. Dalam penelitian DR. Michele Borba membuktikan bahwa anak-anak yang sering khawatir atau pencemas akan mengalami kesulitan yang serius dalam perkembangan kejiwaannya, mereka mudah terkena depresi dan ketika remaja akan semakin mudah terlibat dalam kekerasan dan perkelahian.

Namun demikian bukan berarti telah menjadi “kiamat”, juga masih dalam penelitiannya bahwa 90 % anak-anak yang pencemas (khawatir) bila kita damping dan ajari bagaimana mengelola dan mengurangi  perasaan khawatir (cemas) itu, mereka akan mampu mengenalinya dan mengelola rasa cemas itu sehingga tidak hanyut dalam kecemasan yang dalam.

Sebagai orangtua, kita mengajarkan tata-cara menghadapi masalah yang dapat membantunya mengatasi kesulitan apapun. Buatnya menjadi sebuah kebiasaan mengelola rasa cemas dengan trampil, sehingga akan mendorong daya tahan mental anak menjadi kuat dan membantunya menghadapi rasa cemas dengan cara yang sehat.

Ada 8 tanda dan gejala kecemasan yang bisa digunakan oleh para orang-tua untuk mendeteksi munculnya kecemasan pada anak :

1. Gangguan Tidur, anak akan sulit tidur meskipun rasa kantuknya tidak tertahan.
2. Menghindar, anak mudah menarik diri atau bahkan mudah menentang situasi tertentu.
3. Bertingkah, anak akan mengamuk atau bertingkah tidak sehat bila dipaksa menghadapi ketakutan tertentu, misalnya lari dari rumah.
4. Lengket, anak tidak membiarkan orangtua jauh darinya atau sering menggunakat baying-bayang orang lain supaya bisa selamat.
5. Stres Fisik, debar jantung anak meningkat, tangan berkeringat dan nafas bisa terasa sesak.
6. Teror, anak meresponi dengan menangis, sering merengek-rengek dan mudah gemeteran.
7. Kemunduran, sering mengisap jempol, sering ngompol
8. Ketegangan, sering menggigit kuku, membunyikan gigi, mengepalkan tangan, sering muncul rasa tidak nyaman di perut.
Semoga bermanfaat.

* Dokter Keluarga Emas
   Pendiri IGF (Indonesian Golden Family)
   Deklarator INS (Indonesian Neuroscience Sociaty)

   SMS           : 0813  5678  3032
   Twitter         :@amirzuhdi
   Facebook   : http://www.facebook.com/dr.amir.zuhdi
   Email          : dr.amir_zuhdi@yahoo.com